Kemerdekaan Lembaga Pendidikan

Kemerdekaan Lembaga Pendidikan
Oleh Ahmad Khoeri

Kalian tentu kenal dengan tipologi pendidikan di Indonesia? Benar sekali apa yang ada dipikiran teman teman, pendidikan formal dan non formal. Secara pandangan masyarakat mengkategorikan seperti tersebut di atas. Paud, TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi menjadi jenjang pendidikan di Indonesia. Namun apakah kalian tahu tanpa melewati semua kalian bisa. Maksudnya? Kalian bisa mengikuti Pendidikan Wajar Dikdas atau Ijazah Paket. Kelas pendidikan ini sangat kontradiktif jika tawaran sekolah formal menjadi satu satunya standar atau validator keilmuan atau kasta sosial di Indonesia. Sebab paradigma sekolah formal hari ini menjadi standar kelas sosial di masyarakat modern saat ini. Amat disayangkan jika kelas pendidikan menjadi standar ukurannya. Mereka melupakan esensi belajar. Bahwa seyogyanya belajar itu dimanapun, kapanpun, dan dari ayunan sampai liang lahat. Kalau mereka beranggapan orang cerdas hanya didapat dari sekolah formal, maka produktifitas sumber daya manusia berkualitas amatlah kurang.

Pendidikan dengan pola pandang demikian di masyarakat mudah dipolitisasi. Arti politisasi dalam pendidikan adalah mengendarai lembaga pendidikan atau sistem pendidikan untuk mengatur stabilitas politik sosial, ekonomi dan lainnya agar terkendalikan. Lain halnya dengan pola pendidikan tradisional atau kita sebut Pesantren Kampung yang mengedepankan ilmu. Sehingga setelah lulus mereka mencari medan dakwah implementasi ilmu bukan mencari pekerjaan dari apa yang sudah diperoleh berupa ijazah. Sangat disayangkan jika semakin tinggi ijazah semakin mahal bayaran kerjanya, bukan semakin berkualitasnya ilmu manusia itu semakin dihargai mahal tenaga, pikiran dan prosesnya.

Menyikapi persoalan yang cukup pelik di Indonesia ini mengenai pendidikan. Pendidikan yang dilahirkan sebagai sarana ikut mencerdaskan kehidupan bernegara dan berbangsa, seharusnya cenderung kearah yang positif, justru kearah yang negatif. Apa buktinya kearah yang negatif? Bayangkan pendidikan dianggap hanya untuk kalangan yang berduit, kalau tidak berduit tidak bisa sekolah. Ada lagi bahwa yang bersekolah merekalah yang melek masa depan. Artinya sekolah sudah dianggap satu level sosial tersendiri atas gengsi bermasyarakat. Sehingga kita perlu sadar atas esensi nilai atas pendidikan itu sebenarnya.

Pendidikan adalah proses pendewasaan manusia dalam mengenali dan memahami sekelilingnya guna kemaslahatan berkehidupannya. Kemungkinan besar tidak harus mereka bersekolah di sekolah formal dalam kemapanan pendewasaan cara berpikirnya. Tetapi pengalaman dan pelaksanaan proses keilmuan itulah yang didapat sebagai standar baik dan benarnya keilmuan. Jangan sampai pendidikan yang bangsa kita nikmati hanya untuk meninabobokan bangsa agar tidak berpikir maju dan cerdas untuk mengelola kekayaan alam Indonesia yang berlimpah. Tulisan ini tidak bermaksud untuk tidak sekolah formal, namun mengajak kembali seluruh elemen untuk sadar nilai atas pendidikan. Pendidikan kita hadir jangan sampai menjadi wahana pemecah belah berkehidupan kita di tengah masyarakat yang ramah tamahnya, sopan santunnya terkenal sampai kepenjuru dunia. Secara sederhana mari perbaiki cara penyikapan kita atas pendidikan dan politik pendidikan. Mari merdekakan lembaga pendidikan kita dari pemanfaatan politik yang merugikan. Belajalah dari akar sejarah bangsa ini atas pendidikan dan lembaga pendidikan yang berkembang dari sebelum merdeka sampai merdeka.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *