Dimensi Jiwa Suatu Karya

Dimensi Jiwa Suatu Karya
Oleh Ahmad Khoeri

Pernahkah kita berpikir kenapa lagu itu enak? Apakah enak dari penyanyinya? Suaranya? Syairnya? Musiknya? Atau suasana saat kita mendengarnya? Tentun banyak hal akan parameter nyaman dan tenangnya suatu karya kita dengarkan sampai kita bisa menikmatinya. Sekian banyak karya era now cenderung jarang sekali memikirkan ruh dari suatu karya. Bagi penikmat atau pelaku kelas mahir akan sangat memperhatikan ruh karya. Karena ruh karya adalah jiwa yang hendak disampaikan secara abstrak untuk mewujudkan tatanan rasa atas karya yang dicipta.

Mari sejenak kita mengenal bahasa. Bahasa induknya adalah isi perasaan yang ada di hati, kemudian memilih simbol apa yang perlu dikeluarkan dari akal sebagai validatornya yang diekspresikan lewat kata lisan, kata tulis, gestur tubuh atau lainnya. Maka dari bahasa yang kita sebut perasaan itulah kita akan berbicara ruh karya. Tidaklah karya akan hidup lama atau tak lekang zaman saat tidak ada ruh di dalamnya.

Pencipta karya kelas mahir akan memprioritaskan nilai ruh yang akan masuk ke karya itu. Sampai dia mengulangi banyak uji coba demi menyanpaikan penuh nilai rasa itu. Tidak jarang mereka sampai berpuasa atau mendoakan atas karya sebelum karya dicipta atau karya dipublikasinya. Sehingga karya ini benar benar bernilai dan berharap bermanfaat dikehidupan selanjutnya sebagai peniggalan sejarah atau warisan hidup. Namun untuk pencipta karya kelas pemula tetaplah menanamkan nilai untuk terus berkarya walau belum sampai megenali ruh atas karya. Karena konsistensi atau istiqomah berkarya adalah satu syarat penting untuk berkarya. Syarat itu adalah semangat dan siap untuk terus meluangkan waktu sebagai bagian dari proses.

Gagasan besar akan hidup saat benar-benar dihidupkan keberadaannya dengan kesungguhan untuk mengilustrasikan secara konsisten.
Karya yang berjiwa abstrak dapat kita kenali dari sudut pandang beragam. Keberagaman itu semacam sudut pandang tajam dari pemerhati karya. Sehingga akan sangat baik seorang pemimpin besar pandai menemukan varian rasa atas jiwa-jiwa yang abstrak itu untuk dikolaborasikan menjadi suatu jiwa yang sempurna seperti harmonisasi istrumen musik. Saat musik enak dinikmati berarti ada racikan rasa atau jiwa terhadapnya. Keabstrakan itulah yang membuat penilaian semakin multitafsir. Ada yang menilai ini hanya sebatas karya, ada yang menilai ini bukan sembarang karya. Karena ada pesan yang coba disampaikan lewat terciptanya karya. Contoh sederhananya nyanyian Indonesia Raya, jangan salah, nilai syair didalamnya mampu membangkitkan jiwa bangsa Indonesia untuk merdeka. Penemuan notasi nada dan diiringi musik akan lain lagi jiwa yang coba ditawarkan atas karya tersebut. Karena didalam karya akan hidup jiwa yang coba ditanamkan bagi penikmatnya. Bagi kalangan penikmat mahir akan ketakutan ketika telah mengenali isi atau nilai jiwa yang coba disampaikan. Ketakutan itu adalah rasa sedih atau rasa semangat yang coba nanti diisi sebagai motivasi atau energi penyemangat hidup. Maka mari jangan hanya berkarya dan jangan hanya menikmato karya sekilas lalu. Berkaryalah dengan jiwa atau rasa sebenarnya sampai ruh itu hidup saat dinikmatinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *