Ragam Gaya Penulisan-Penafsiran Teks

RAGAM GAYA PENULISAN-PENAFSIRAN TEKS

Oleh: Makmun Rasyid (Penulis Buku-Buku Islami)

Manusia diciptakan dan di-“taruh” di muka bumi, punya makna yang “dalem” dan luar biasa. Sejak ‘kejatuhan’ (baca: teori kejatuhan) Nabi Adam dari surga bersama Hawa, unsur “perjuangan seorang manusia” melekat dalam ke-khalifahannya. Nabi Adam sajalah yang tercipta dari tanah, sedangkan manusia setelahnya berasal dari ovum dan sperma “yang menjijikkan” (masihkan Anda sombong?). Sejak penciptaan manusia pertama dan selanjutnya, Allah memberikan pendengaran, penglihatan dan kekuatan pikiran (fu’âd; “jamak”-nya:  af’idah). _”Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”_ (Qs. Al-Sajadah [32]: 7-9).

Dibuatkannya pendengaran, penglihatan dan keterlibatan hati membuat manusia mampu menemukan (makna kata “temu” selalu melibatkan ketiga unsur tersebut) ide-ide bernas. Ide apapun selalu berharga dan dapat dihargai. Semakin bagus ide, semakin mahal ‘harganya’. Sebab itulah, ide–dalam perspektif para penulis–selalu melibatkan pikir-indra-rasa-naluri. Ada proses kerja dan waktu yang lama untuk mendapatkan ide secara komprehensif dan mampu terpetakan secara sempurna. Maka ide tidak saja harus dicari, tapi ditemukan sampai ke mana saja.
Ide yang sudah (mampu) bisa terpetakan, segeralah membuatlah premis-nya. Tiga unsur premsi: tujuan, ringkas dan padat, dan pemilihan tokoh utama (apa, bagaimana dan solusi). Dari premis itulah akan lahir pemetaan naskah yang bagus. Namun, tidak semua manusia memanfaatkan ide-ide bagusnya dengan menuliskan, agar bisa dinikmati khalayak luas. Keterhambatan itu—sebagaimana yang pernah dirasakan penulis—bisa berasal dari empat sebab, yaitu: kehabisan ide; kehabisan semangat; kehabisan kata-kata dan kehabisan Kesabaran. Empat faktor itu membuat kehadiran penulis menjadi gelisah dan merasa tidak nyaman dihadapan laptop atau buku tulisnya. Gerakan pena dan tangan pun berhenti. Fokus pun hilang; cara menyambungkan satu paragraf satu dengan lainnya pun tak bisa.

Jika Anda kehabisan ide, maka perbanyak membaca dan menyerap informasi; jika Anda kehabisan semangat, maka konsultasi, mendekat kepada penulis lain atau gabung bersama penulis-penulis “sebaya” (jika ‘mental’ kuat, bisa bersama penulis handal dan senior); jika Anda kehabisan kata-kata, maka mendekatlah kepada kamus dan buku-buku sastra; jika Anda kehabisan kesabaran, maka saatnya Anda mengatur kembali waktu yang tepat dan tempat yang nyaman. Tempat yang nyaman akan membantu Anda memunculkan semangat. Berikan waktu secukupnya dalam setiap hari, agar konsistensi terjaga. Dalam makna kesabaran terdapat unsur istiqamah yang tumbuh dalam pribadi seseorang. Karenanya saya katakan, “lebih baik Anda menulis setiap hari 10 menit, dibandingkan seminggu hanya menulis 30 menit (hanya sehari; sekalipun masih lebih baik daripada tidak menulis sama sekali.).”

Kemudian, setelah Anda mampu menjaga empat virus yang sering menerpa seorang penulis (baik pemula maupun senior). Anda bisa mengambil empat ragam penulisan atau penafsiran yang berkembang saat ini, khususnya dalam dunia tulis menulis buku. Keempat metode ini, sangat akrab dalam dunia riset dan karya ilmiah; khususnya dunia tafsir al-Qur’an dan Ulumul Qur’an. Namun Anda bisa menggunakannya dalam menulis apa saja dan genre apapun.

Pertamaal-Qadîm al-Qadîm . Cara ini, dalam penulisan buku, mengambil topik-topik dan isi yang berkembang pada masa lalu, kemudian mengemasnya dengan model lama. Tak ada kebaruan dalam karya jenis ini. Teksnya yang sudah muncul ribuan tahun lalu, dan solusi yang diberikannya tidak realistis dengan kondisi kekinian. Kedua, al-Jadîd al-Jadîd. Cara penulisan jenis ini, topiknya baru dan lepas dari prinsip-prinsip warisan tokoh (ulama) masa lalu. Umumnya dalam dunia pemikiran, posisi ini banyak disinggahi kaum liberalis. Dalam menulis buku selalu mengambil pendapat yang “marjuh” dan pendapat minoritas dan keluar dari kaidah-kaidah “keadaban” warisan leluhurnya. Jenis tulisan ini di Indonesia sangat sedikit, sebab masyarakat Indonesia “belum” (untuk tidak mengatakan “tidak bisa”) ‘dewasa’ dalam perbedaan. Bahkan tak terkecuali kalangan santri (sekalipun sudah sangat akrab dengan Ilmu Fikih yang syarat akan keragaman pendapat; misalnya: Bidâyah al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd—pengkritik keras pemikiran Imam Ghazali dalam bidang filsafat).

Ketigaal-Qadîm al-Jadîd. Cara penulisan ini banyak di Indonesia (lawan dari yang kedua). Jenis ini pula yang diambil para penulis buku moderat (seimbang dalam berpikir dan bertindak; hasil aktualisasi dari pemikirannya). Memegang teguh prinsip dan asas-asas kepenulisan para pendahulu, tetapi kaidah lama itu “dijelma” dan dikonstruk dalam format baru dan memberikan solusi yang pas. Dalam menulis Cerpen, setelah menjelaskan konflik yang diciptakan, ia tidak saja mampu menjelaskan bagaimana konflik itu terjadi tapi mampu memberikan solusi yang bisa digunakan untuk menjawab problematika yang ada. Jika dalam dunia karya ilmiah, karyanya mampu menjadi jembatan setelah sebelumnya ada konflik berkepanjangan di antara dua atau lebih kaum intelektual. Keempatal-Jadîd al-Qadîm. Jenis menulis ini biasanya dipakai oleh kaum orientalis dalam menjabarkan keadaan umat Islam. Memformat sesuatu yang dianggap “unik” (unik itu bisa berasal dari pendapat, ide, gagasan dan konsep yang “marjuh”) kemudian di-“publish”. Padahal kebaruan yang diasumsikan penulis itu adalah masa lama. Misalnya, kaum orientalis membahas proses kewahyuan Ilahi yang sampai kepada Nabi Muhammad, padahal di kitab-kitab klasik dan babon umat Islam itu sudah diperdebatkan. Dalam menulis buku Cerpen pun demikian, penulis memformat ide-ide unik, padahal ide itu sudah pernah “disusui” penulis sebelumnya. Kelebihan para penulis yang mengambil posisi keempat ini adalah selalu “menyusui kata-kata”-nya secara apik dan baik. Akhirnya, pembaca merasakan adanya kebaruan padahal tidak ada hal baru darinya.

Dengan demikian, inti dari segalanya, yang utama adalah “action”. Teori tanpa aksi hanyalah membuang energi. Sebab, seseorang tidak bisa diukur dari banyaknya hafalan teorinya, melainkan aksi dan karya yang dilahirkannya. Menulis saja, jangan “berpikir”. Di saat menulis pun, penulis tidak boleh merangkap jabatan sebagai seorang editor. Rangkap jabatan itu bisa-bisa melanggar asas akhir literasi, yaitu: ketuntasan dalam menulis, hasil penjabaran dari sebuah ide yang sudah direncanakan semula. Menulis, menulis dan menulis. Semoga bermanfaat! []

SELAMAT MEMBACA


Follow: IG: @makmun_rasyid / FB: Makmun Rasyid / Website: www.makmunrasyid.com

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *