Polarisasi Budaya Urban

Polarisasi Budaya Urban
Oleh Ahmad Khoeri

Era modern telah menjadi wacana penting atas lahirnya sifat idividualisme dan kekosongan spiritualisme pada diri masyarakat urban atas budayanya. Pola yang sama tumbuh menyebar cepat dengan lahirnya kota-kota baru bernuansa Jakarta. Tidak jarang masyarakat yang dahulu petani kini beralih profesi menjadi bapak kost dan ibu kost. Mereka berpikir bahwa pertanian tidak memiliki prospek yang jelas kedepannya.

Keterbelakangan berpikir masyarakat urban baru atas budaya berimbas pada masyarakat kelas pabrik. Apa masyarakat kelas pabrik? Masyarakat yang lahir atas didikan sekolah formal kemudian dilelang dalam dunia kerja karyawan dengan gaji pas-pasan. Sekolah formal yang dilahiran hanya untuk menjadi kasta sosial era baru zaman now. Kasta ini lahir sebagai pembeda dengan sematan kaum terdidik dan kaum pinggiran. Sungguh sangat disayangakan polarisasi budaya urban menjadi sebab lahirnya genarasi lemah iman atas sejarah. Kenapa ini terjadi? Karena generasi ini menilai masa depan sebagai lahan mereka hidup nyaman, aman dan sejahtera tanpa melihat sebelah kanan dan kiri, seperti falsafah ibadahnya muslim pada akhir shalat yaitu salam kearah kanan dan kiri. Salam ini mengisyaratkan bahwa kenyamanan, keamanan, dan kesejahteraan seharusnya dirasakan pula bagi yang lain sebagai bentuk kemerdekaan hidup. Bagaimana kita mau sejahtera jika kita kaya tetangga kita miskin, kemudian bisa-bisa tetangga kita menjadi ancaman atas kesejahteraan kita.

Masyarakat urban yang sekarang tumbuh cepat, perlu diimbangi dengan nilai spiritualisme. Nilai itu kita bentuk dengan adanya produk kemasyarakatan semacam gotong-royong atau dalam tradisi islam nusantara yaitu tahlilan. Kenapa silaturahmi semacam itu perlu pada polarisasi masyarakat urban? Karena semakin berkembangnya suatu bangsa dan negara akan semakin dibutuhkannya persatuan dan kesatuan. Ancaman atas persatuan akan lahir saat yang kaya tidak mau bersedekah dengan hartanya, orang miskin tidak mau bersedekah atas doa dan sikap tolong -menolongnya, orang berilmu tidak mau bersedekah dengan mengajarkan ilmu kepada orang yan bodoh.

Zaman yang berkembang semakin jauh dan akan semakin rumit kita mempelajari ruh atau nilai dari sesuatu tersebut. Kita butuh pembiasaan nilai sebagai kebiasaan yang positif guna menjaga keutuhan persatuan. Mari persiapkan generasi penerus yang cerdas terbarukan dalam menyikapi polarisasi budaya urban di negara kita Indonesia. Semoga mereka yang sekolah formal sampai tinggkatan tinggi mampu dengan ringan tangan terjun kemasyarakat tanpa malu berseragam compang-camping ala pak tani berkebun. Karena penyakit sekarang lulusan sekolah formal amat malu kalau tak berpakaian jas berwibawa setelah lulus atas keilmuannya. Persiapkan dari sekarang mental spiritualisme generasi bangsa agar dapat membendung sifat individualisme. Sukseskan gerakan revolusi mental (spiritualisme) masyarakat budaya urban agar bangsa ini utuh dan penuh persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *