Parameter Polarisasi Masyarakat Urban

Parameter Polarisasi Masyarakat Urban
Oleh Ahmad Khoeri

Berbicara paham atau tidak ada dua persoalan yang kita harus baca. Persoalan bahasa dalam penyampaiannya, ada yang tulis dan ada yang lisan. Berbicara bahasa akan berbicara komunikasi. Apa yang kita komunikasikan sebagai kaum berpendidikan adalah melihat lawan berbicara. Karana lawan berbicara adalah sasaran pembaca. Apa yang kita sampaikan perlu dengan sederhana dipahami oleh pembaca. Saat pembaca tak paham berarti ada dua kemungkinan karena bahasanya penulis terlampau jauh menyampaikan atau terlampau dalam menyesatkan, dan pembaca terlampau jauh membingungkan atau terlampau dalam memahami.

Kembali kepersoalan, pembaca berbicara beberapa konten. Konten pertama parameternya adalah pola kota dan desa dalam perkembangannya. Ketika kita berbicara hal kota desa maka akan berbicara tiga perkembangan ekonomi, pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Desa dan kota hanya dibedakan secara antropologi geososial ekonomi, artinya masyarakat desa bisamenjadi masyarakat kota, namun masyarakat kota tak bisa menjadi masyarakat desa saat pola antropologi geososial ekonomi. Secara sederhana, bahwa peralihan petani menjadi pemilik kost kostan atau kontrakan adalah polarisasi masyarakat urban yang terbentur pada perkembangan lingkungan. Jadi jangan heran jika Serpong dahulu wilayah hutan atau padang ilalang atau sawah berubah menjadi komplek perumahan atau pertokoan. Begitulah perkembangan masyarakat urban dari kemajuan daerah atas tiga faktor ekonomi, pendidikan dan sosial kemasyarakatan.

Terkait parameter yang kedua mengenai lemah iman atas sejarah bagi masyarakat urban yaitu cerminan bahwa semakin kita maju berkembangan dan cenderung individualisme muncul, maka jangan salah kelemahan sejarah terjadi. Cinta tanah air sebagaian dari pada iman adalah cerminan masyarakat yang siap menghadapi segala medan pertarungan atas perkembangan zaman. Seharusnya masyarakat yang berkembang atau sampai maju dalam sektor ekonomi, pendidikan dan sosial kemasyarakatan akan semakin baik menelaah sejatah. Zaman melenium adalah zaman yang serba rasional. Sekiranya lemah iman terjadi karena melupakan sejarah bangsanya atau negaranya maka sangat jelas ini pekerjaan rumah sebelum ingin menjadi masyarakat urban atau modern. Siapa yang punya sejarah dan mengenali sejarahnya maka dia adalah calon generasi besar. Sehingga tidak terjadi ketimpangan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Hal tersebut disebabkan pemahaman nilai keseimbangan terjadi yaitu tolong-menolong, saling bekerjasama dan bersatu atas kesejahteraan, keamanan dan kenyamanan kehiduapan. Begitulah yang dinamakan penerapan perikemanusiaan.

Konten ketiga dengan parameternya adalah tentang ancaman bagi yang tidak menyikapi keseimbangan. Hal keseimbangan adalah tidak membedakan antara aku, dia, kamu, kita dan mereka dalam peran untuk tujuan bersama. Berbira peran atas status diri adalah bagaimana menyikapi untuk saling melengkapi. Jika yang kaya tak mau berbagi harta atau dia menumpuk harta tanpa memperhatikan kesejahteraan tetangganya maka akan terjadi konflik. Konflik yang terjadi adalah cemburu sosial dan bisa mengakibatka pemberontakan seperti perampokan, pencurian, penjambretan dan lainnya. Sehingga sebagai masyarakat urban perlu mengenali pola perkembangan dan bangun ruh nilai tujuan atau kenali nilai tujuan secara dalam. Persatuan dan kesatuan menjadi nilai penting untul perkembangan suatu bangsa. Kita bangsa Indonesia yang punya semboyan Bhineka Tunggal Ika menjadi falsafah yang penting untuk dipahami dan diamalkan. Sehingga antara saudara satu dengan saudara lain, tetangga satu dengan tetangga lain tidak bermusuhan. Janganlah buat cemburu saudaramu atas kecantikan, kekayaan, kepandaian dirimu. Jadilah generasi yang cerdas terbarukan rahmat bagi semesta alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *