MEMBACA ITU KEBIASAAN

Membaca Itu Kebiasaan 

“Kriteria Minat Baca Gaya Now”
Membaca bukan sekadar susunan huruf menjadi kata, kemudian membentuk sebuah kalimat, dan tersusun menjadi paragraf yang bermakna pada salah satu gagasan tertentu atas cara kemahiran membaca sampai tahap memahami, bukan hanya sekadar itu. Membaca lebih kepada bagaimana kita mempengaruhi orang lain atas ideologi yang hendak dibangun. Pondasi dalam membaca adalah strategi dari menyampaikan sebuah gagasan dengan bentuk yang menarik dan kekinian. Strategi tersebut demi menumbuhkan minat baca terlebih dahulu dari sasaran target.

Masyarakat baca di Indonesia cenderung pelajar atau mahasiswa, itupun karena tuntutan belajar. Adapun masyarakat pekerja atau pejabat yang pintar dan pemimpin yang pintar, ketertarikan membaca cenderung instan. Hal ini terbukti dari minatnya mereka terhadap konsumsi koran atau media online lainnya. Buku yang hanya dikonsumsi karena tuntutan akademis atau proses mengaji bagi penikmat dan pendalaman ilmu amat sangat minim peminatnya. Dari sekian pelajar dan mahasiswa yang memiliki rata-rata 100 judul buku lebih, sangatlah langka dari sekian persen yang berpendidikan. Memang penulis belum mambaca lebih cermat data atas penelitian membaca di Indonesia umumnya. Namun penulis mencoba mengambil kesimpulan dari medan sekitar penulis. Buku yang menjadi dasar sumber kedua, selain kenyataan peristiwa baik itu pelaku atau keadaannya, seharusnya mampu diapresiasi penuh oleh masyarakat akademis atau penikmat ilmu pengetahuan. Penghargaan kaum ilmu pengetahuan adalah dengan memiliki dan membaca karya generasi pejuang yang mencoba mewariskan sejarah gemilangnya lewat karya yang terbukukan.

Kriteria minat baca akhir-akhir ini beralih pada dunia di bawah genggaman. Maksudnya adalah bacaan yang praktis dikemas oleh teknologi yaitu gawai secara ekonomis dan cepat penyebarannya. Efek akan pola semacam ini, menuntut karya atau tulisan yang dibaca agar tidak membetekan, dan rata-rata bergaya bahasa deskripsi atau jika berat, lebih kepada ringkasan atau juga pemadatan inti gagasan. Keterkaitan pola media dengan kriteria minta baca gaya now yakni atas munculnya kebosanan masyarakat akan kegiatan bacaan yang telah dibaca dan kemudian dibaca ulang. Penyakit semacam ini akan berakibat sikap menuntut untuk mendaur ulang tulisan jika hendak dipublikasi ulang, atau meraka memaksa untuk mendapatkan informasi dan tulisan terbaru. Kriteria minat baca gaya now tidak membekas pada pembaca yang mengerti teori atau nilai keilmuan dalam kemahiran berbahasa yaitu membaca, menyimak, menulis, berbicara. Kenapa penulis mencoba menalar kearah kebosanan? Hal tersebut atas penulisan lama yang tidak dikemas ulang dan para pembaca cenderung ingin lebih mengetahui informasi terkini. Gambaran demikian, mencerminkan masyarakat zaman now yang cenderung lambat untuk mendokumentasikan suatu ilmu pengetahuan. Bahan bacaan yang telah dibaca sebelumnya merupakan pijakan atau sumber data yang mutawatir. Kalau para pembaca memiliki kemutawatiran daya membaca maka para pembaca tidak mudah terpicu pada HOAK atau PLAGIAT.

Adapun kriteria minat baca gaya now secara sederhana ada lima sudut pandang. Sudut pandang tersebut berdasarkan pengamatan penulis sejak penulis rajin membaca sampai memiliki 7000 ribu judul buku dalam kurun 7 tahun. 1. Membaca adalah suatu kegiatan yang perlu dimotivasi sebelumnya dengan cara pemaksaan atau dibiasaakan lewat rutinitas dan pertemenan. 2. Membaca memiliki  kelas kemasan atau bentuk atas wahana yang coba disampaikan dan tidak harus berbentuk buku ilmiah atau buku saja, masih banyak bentuk selain buku. 3. Membaca berdasarkan penikmat dikategorikan atas kematangan berpikir dan latarbelakang status pendidikan. 4. Membaca menjadi suatu kebiasaan atau gaya hidup ketika pembaca telah memiliki apa yang dibaca, kemudian ia terus mencoba memiliki bacaan yang masih terkait dengan apa yang dibacanya tersebut. 5. Membaca akan lebih diminati oleh generasi sesuai zaman pembaca, karena meraka cenderung melihat, kemasan cover, judul, konten isi, penerbit, dan penulis, dengan disesuaikan proses promosinya. Secara tegas harganyapun harus  murah tapi berkualitas jika bentuknya buku, namun jika bentuknya media lain yaitu mudah diakses dan gratis. Sehingga membaca bukan menjadi kegiatan yang melelahkan dan tidak menguntungkan jika ukurannya finansial. Membaca adalah salah satu cara ikut meberikan pengaruh atas kemapanan diri baik cara berpikir atau proses menejemen aplikasi kehidupan. Cerdasnya generasi akan memberikan angin segar dalam kesertaan diri sebagai penggerak yang ikut mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bertanahair. Mari membaca sebelum membaca dilarang oleh kehidupanmu. Wujudkan penghargaan diri dengan membaca dan mengenali kehidupan lewat sejarah.

Ahmad Khoeri dengan nama pena Laba-Laba Pasir atau Pendekar Langit (Penulis Antologi Puisi S36, Penasihat Komunitas LORONG dan  Wakil Ketua PC MATAN Ciputat)

Materi yang disampaikan di acara kajian mingguan Komunitas LORONG di Ciputat,  8 Maret  2018

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *