Ihwal Relevansi Kader dan Muharrik Organisasi

Oleh: Hasan Malawi

Fungsi kader pada setiap organisasi, sama. Secara teknis, kader merupakan komponen paling penting dari motor ideologis; Muharrik Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah. Kader menjadi cermin bagi organsiasi dari berbagai aspek.

Apabila, kapasitas dan profesionalitas kader baik, maka tradisi organisasi juga baik. Kemudian, tradisi organisasi menjadi lebih baik. Lalu, jika kader bergerak lebih luas serta mampu berpikir maju, maka organisasi sudah tentu menjadi pionir dan garda terdepan diantara organisasi-organisasi lain.

Menjadi kader penggerak mesti melampaui proses yang panjang dari tempaan yang luar biasa atas beragam situasi. Setidaknya, secara personal harus selesai dalam diktat serta mekanisme dalam organisasi. Juga, mesti selaras antara kecakapan pengelolaan, penguasaan teritorial, konektivitas akses, kapasitas keilmuan, pendalaman prinsip, dan komitmen integritas atau kepribadian yang dapat dijadikan sebagai teladan. Sehingga, mampu mengukur strategi bermanuver pada langkah-langkah strategis di lapangan dalam melaksanakan kerja pengorganisasian.

Karenanya, kader merupakan pokok penting sebagai motor yang bisa menjamin agar roda organisasi dapat berjalan dan bekerja dengan benar. Menjadi penggerak tentu juga wajib didasari niat serta pengkhidmatan yang kuat. Setidaknya, mampu menopang militansi dan menjaga semangat.

Hal tersebut yang menjadi landasan agar tidak sekadar menyampaikan slogan atau aktif dalam kegiatan seremonial serta rutinitas belaka. Namun, pada pelaksananya mesti menjadi seorang pencipta yang akan membantu dalam pengembangan basis di setiap daerah. Selain itu juga mampu menjadi penyampai informasi pada pemimpin dalam struktur organisasi serta menjembatani kontak diantara kader agar terjaga stabilitas dan komunikasi dalam organisasi.

Selain teknis, kader penggerak juga harus memiliki misi penting dalam melihat semangat perjuangan Nahdliyin pada takaran ideologis; melalui cara apa pun. Kader penggerak juga harus bisa mempertahankan aqidah dan ideologi yang hari ini mudah terkikis. Hal demikian agar semangat besar asas yang sudah diperjuangkan dalam kurun waktu yang cukup lama tidak terbuang percuma. Juga, agar tidak terlelap atau berkurang ritmenya.

Lebih-lebih, kader Nahdlatul Ulama (NU) yang notabene sebagai organisasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan yang tentu punya peranan penting. NU menjadi organisasi yang sampai hari ini mampu memberikan banyak kontribusi bagi bangsa. Itu, karena proses produktivitas kader yang mampu tampil di berbagai gelanggang zaman. Meski, dengan beragam karakter; mulai tipikal tradisional hingga yang cekatan dalam era milenial; yang kesemuanya itu beranjak dari akar ideologi yang sama.

Itulah yang harus diperjuangkan dalam kodrat ‘harakah’ NU, selain bagaimana mengajukan organisasi ini dalam berbagai sektor garapan yang luas. Kader penggerak juga harus bisa memperjuangkan nasib warga NU. Sebab, sebagian besar Nahdliyin, selama ini, banyak mengalami penindasan serta korban dari berbagai konflik horizontal di masyarakat.

Sebab, di sana terdapat banyak ruang yang semestinya diperjuangkan secara hakiki. Komitmen NU dalam pilar-pilar tasamuh, tawassuth, tawazzun, a’dalah, dan mabadiul khoru ummah secara gamblang terdapat di sana; di ruang dimana Islam Nusantara diejawantahkan sebagai rahmatan lil Al-Amin yang keberpihakannya tentu dapat dirasakan bagi jamaah Nahdliyin.

Akan tetapi, selama ini kader penggerak NU masih berkutat dalam internal, glorifikasi sejarah, peremajaan tata kelola rumah tangga organisasi, dan memiliki keterkaitan dalam lipatan kepentingan sektoral. NU akan kesulitan menyiapkan kader terbaik untuk bisa selalu menjadi katalisator perubahan arah bangsa. Seluruh kader NU hanya akan berada di pinggiran dan sejarah terampil di internal struktural tanpa mampu menentukan kebijakan strategis ke luar.

Ihwal tersebut, NU harus banyak melakukan pengembangan kader dengan berbagai perangkat yang mendukung. Selain satu sama lain pihak yang berkaitan secara internal di dalam batang tubuh organisasi NU harus saling mendukung dan mengembangkan. Sebuah tugas yang tidak bisa ditunda, manakala NU ingin tetap survibs menjadi yang penyangga republik ini.

Apabila dewasa ini gelombang tantangan bagi NU kian besar, langsung bertandang tatap muka, maka sudah sejauh itukah NU menjaga dan merawat pada kader unggulan; baik dalam tataran struktural maupun kultural. Badan Otonom (Banom) maupun lembaga untuk menjawab gelombang tantangan itu.

Penulis adalah Wakil Ketua II Bidang Kaderisasi PW IPNU Jawa Barat.

Sumber:http://www.jagatngopi.com/ihwal-relevansi-kader-dan-muharrik-organisasi/

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *