DUNIA TERBALIK

Dunia Terbalik*

Dunia Terbalik adalah program drama komedi yang mengangkat cerita tentang para suami yang ditinggalkan istrinya untuk bekerja di luar negeri. Dimulai dari kisah Akum, Aceng, Idoy dan satu musuh bebuyutan Aceng, Dadang. Mereka harus mendidik anak serta mengurus urusan rumah tangga yang biasanya menjadi urusan para wanita. Sementara istrinya harus menafkahi keluarga. Cerita ini menceritakan masysarakat Jonggol, Bogor. Sebelumnya, mereka tinggal di Desa Cibarengkok, namun karena desa itu terkena longsor, maka mereka pindah ke Desa Ciraos.

Dadang merupakan salah satu suami yang beruntung karena istrinya mendapatkan penghasilan paling besar di antara para TKW yang lain. Keberuntungan inilah yang kemudian membuatnya menjadi sering pamer harta kekayaan dan membuat Aceng iri hati. Dengan berbagai cara Aceng selalu ingin membuat Dadang kalah, namun sayangnya kadang Aceng malah terkena batunya. Akum dan Idoy-lah yang menjadi penengah agar situasi tidak semakin panas.​

Berangkat dari hal ini, tentang bagaiman kondisi masyarakat yang bisa kita lihat pemaparan diatas. Dan perlu kita garis bawahi bagian yang perlu dibahas, dan saya sendiri menekankan bahwa penggaris bawahan itu tertuju pada sebuah problematika masyarakat yang bergeser yaitu tentang istri mencari nafkah dan suami mengurusi anak dirumah. Dari tradisi sebelumnya bahwa asumsi terhadap persoalan yang sedang dibahas ini adalah suami mencari nafkah dan istri mengurusi anak dirumah, dan makanya kenapa judul dari sinetron ini adalah “dunia terbalik”. Dan kenapa drama ini banyk yang menyukai karena alur ceritany begitu dekat dengan kita.
Sangat penting sekali kita telisik lebih dalam tentang hal ini dengan memakai hukum klausalitas yaitu sebab-akibat dan dari berbagai aspek. Kita awali dengan penyebab dari tema yang kita bahas. Dari saya perhatikan bahwa faktor ekonomilah yang menjdikan semua ini terjadi. Berbicara soal ekonomi maka berbicara soal kebutuhan, yaitu kebutuhan dalam lingkup keluarga. Bagaimana dalam kehidupan kita perlu akan pemenuh kebutuhan tersebut. Menyinggung soal kebutuhan ada banyak perbedaan diantara orang ataupun keluarga, namun kebutuhan pokok adalah sandang,pangan dan pendidikan bagi mereka yang mempunyai anak. Atas hal itu maka manusia perlu mendapatkan nya untuk memenuhi kebutuhannya. Adapun cara mendapatnya yaitu dengan bekerja dengan kata lain ketika bekerja akan mendapatkan uang dan uang ini adalah sebagi alat transaksi. Kembali pada asumsi kita tentang suami yang harusnya mencari nafka dan hal tersebut menjadi sebuah kewajiban. Akan tetapi dalam usaha mencari nafka ini terhambat oleh beberapa hal yaitu Pendidikan, Kretifitas atau keahlian dan tempat bekerja. Ketika hal tersebut tidak dimiliki oleh suami maka bisa kita sebut sebagi pengangguran, dan pengangguran dalam artian adalah tidak adanya penghasilan. Sedangkan kebutuhan keluarga meningkat, lalu mau tidak mau istri bertindak sebagai suami yaitu mencari nafkah dan tidak lagi fokus terhadap apa yang kita fikirkan bahwa seorang istri tidak jauh dari persoal dapur, sumur dan kasur. Kini ia keluar untuk mendapatkan pundi pundi rupiah agar kebutuhan terpenuhi.

Singkat saja sekarang sang istri sudah mendapatkan tempat dimana ia mengais rezeki untuk memenuhi kebutuhan. Ada banyak pekerjaan yang tersedia, namun saya lebih akan mengarah kan pada pekerjaan istri sebagai pegawai di luar negri atau buruh pabrik. Berangkat dari ini kita akan masuk pada sebuah akibat dari penyebab. Pekerjaan yang dilakukan ini jelas tidak jauh dari persoalan waktu dan tempat. Bagaimana waktu dan tempat bersinggungan dengan pekerjaan yang telah di sebutkan dan bagaimana efeknya. Pertama tempat kerja ini berada jauh dari rumah dan jelas memilik kebijakan tersendiri untuk mengaturnya dan ini menjadi sebuah sebab dari beberpa persoalan yaitu tentang bakti kepada suami yang memang hal ini menjadi sebuah hal yang ditekankan pada agama islam. Selain itu juga menyangkut dengan pendidikan keluarga bagi mereka yang memiliki anak. Pendidikan keluarga ini sangat penting bagi perkembangan anak baik karakter maupun pengetahuan anak. Hal ini pun menjadi sebuah gaungan dari kemendigbud bahkan gaungan ini tidak hanya di indonesia bahkan negara negara lain pun juga ikut serta dalam penekanan terhadap pendidikan keluarga ini. Lalu pertanyaannya adalah apakah pendidikan keluarga akan berjalan dengan semestinya sedangkan seorang ibu tidak sedang dirumah. Mungkin hal pun menjadi sebuah penyebab anak salah dalam pergaulan karena kurangnya kasih sayang. Efek yang lebih besar terhadap salanya pergaulan ini mampu meruntuh sebuah negar, karena negara generasi muda sangat berpengaruh dalam sebuah negara. bahkan sokarno perkata bahwa “kirimkan aku 10 pemuda niscaya aku akan gocangkan dunia”. Ini jelas membuktikan pengaruh besar yang dimiliki pemuda. Namun pemuda yang bagaimana pemudah yang tumbuh atas bobroknya pendidikan keluarga. Sedangkan pendidikan keluarga adalah pendidikan paling awal bagi anak, selebihnya masyarkat dan sekolah.

*Oleh : Imam Arifin // Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta // Ciputat, 05 April 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *