​Identitas Diri: Agama dan Politik Bersinergi Jalan Adiluhung

​Identitas Diri: Agama dan Politik Bersinergi Jalan Adiluhung


Perjalanan manusia mengenali jati diri melalui pemaknaan tentu terlebih dahulu harus mampu mengenali dirinya. Begitulah kecenderungan, kesadaran dalam diri manusia yang bersifat transenden guna fokus pada sistem kesempurnaan jiwa dan raga. Kemudian menganai agama dan politik bagi manusia berpikir merupakan salah satu sarana penyempurnaan  diri yang bersifat primer. Senada dengan paparan Komarudin Hidayat pada bukunya yang berjudul Agama di tengah Kemelut (2001/95) “Karena hakikat kemanusiaan kita bertumpu pada realitas spiritual, maka dimensi spiritualitas itu ibarat pohon yang berkembang sehat dab berbuah banyak ketika mendapatkan cukup vitamin, yaitu dengan jalan mengasosiasikan diri kita dengan Zat yang Maha Spiritual. Jiwa kita akan senantiasa suci dan penuh kedamaian kalau kita selalu mendekat dan bergabubg dengan Yang Mahasucidan Mahadamai.”

Sebelum mendalami kajian singkat ini, penulis mengutip kalimat M. Amein Rais dalam bukunya yang berjudul Membangun Politik Adiluhung (1998/163) tertuliskan kalimat tegas, “Mengapa kita tidak secara independen berpegang kepada Allah dan meretas hablum minannas, bergaul dengan manusia seluas-luasnya untuk membangun masa depan negeri ini. Saya kira itu lebih safe.” Kalimat kutipan ini bersikap solutif dalam figur ibda’ binafsi dalam amar ma’ruf nahi mungkar terhadap agama dan politik yang sinergitas perjuangannya untuk kemaslahatan orang banyak. Agama secara hakikatnya dimaknai guna membentuk manusia lebih terarah  yang mengenal arti kemanusiaan terhadap dirinya. Adapun mengenai politik sangat subjektif, apabila politik dikategorikan sebagai bentuk mempertahankan diri. Lebih lanjut jika agama dan politik disandingkan dalam satu perspektif, maka butuh status dan peran pada pelaku atau pelaksana secara terstruktur dan masif agar lebih terarah dan jelas.

Alam yang luas mampu memberikan warna pencerahan dalam paradigma perjuangan, sehingga tidak terjadi kemelut. Tidaklah mudah manusia berjuang demi melerai belenggu nafsu individualis. Karena hal tersebut berbicara kebutuhan. Bagi kaum yang memiliki landasan ketuhanan didalam hatinya maka arah hidupnya dengan sebenar-benarnya mampu melegitimasi kemajuan politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Karenanya kemapanan politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Dibarengi dengan pemaknaan diri atas ketuhanan, sehingga mereka yang mempercayai Tuhan dalam hatinya dengan seksama mengimplementasikan politik berdasarkan kemanfaatan menumbuhkan jiwa kemanusiaan yang hakiki didalam dirinya. Sebagai manusia yang berbudi luhur politik dimaknai lebih jauh sebagai bentuk strategi suksesi kesertaan diri secara terorganisasi dalam perdamaian dunia, keadilan dan kesejahteraan rakyat dalam kehidupan bernegara. Karena jika agama dan politik berjalan tidak beriringan akan terjadi kemelut sosial kemasyarakatan yang memicu konflik sektoral semisal ekonomi dan pendidikan. Mari generasi penerus dengan sadar kita tumbuhkan jiwa perikemanusian dalam identitas diri. Hal tersebut sangat bermanfaat bagi tatanan kehidupan yang kejayaan peradaban dan berkemajuan cara sikap serta perilaku generasi penerus.
 Oleh Ahmad Khoeri (Wakil Ketua PC MATAN Ciputat)

Materi ini dipaparkan dalam diskusi bulanan PK PMII Universitas Pamulang Tangerang Selatan, 26 November 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *