​SYADZILIYAH: Konseptual Baiah dan Khirqah

Rais ‘Am Jam’iyah Ahlit Thariqah al-Muktbarah al-Nahdlyah Nahdhlatul Ulama (Jatman NU) yang juga sebagai mursyid multi tarekat termasuk sebagai mursyid Syadziliyah, Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya telah membaiah jamaah dari Makassar yang sengaja sowan ke beliau di kediamannya, Pekalongan (Jumat-Ahad/06-08/2017).
Kafilah dari Makassar ke Pekalongan yang menerima baiat Tarekat Syadziliyah sebanyak 24 orang dipimpin oleh mursyid Khalwatiyah Syekh Yusuf, al-Habib Syekh Sayyid Abd. Rahim Assegaf Puang Makka. Di antara kafilah tersebut, ikut serta mursyid Tarekat Haqiqatul Muhammaddiyah Syekh Dr. KH. Baharuddin, Mursyid Sammaniah Syekh Andi Hidayat Puang Rukka. Hadir pula jamaah Syadiziliah murid Allahuyarham Mustamin Arsyad, Syaharuddin Mayang dan sejumlah yang hadir untuk tidak mengatakan dominan dari jamaah Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makasariy. 
Sebelum prosesi baiah,  Puang Makka menkisahkan kronologis kesediaan Rais ‘Am Jatman membaiat tarekat Syadziliyah bagi jamaah dari Makassar. Dituturkan  bahwa sudah tujuh tahun rencana dan niat tulus baiah Syadziliyah ini disampaikannya ke Habib Luthfi, dan setiap Puang Makka sowan ke mursyid multi tarekat yang dikenal sangat super sibuk tersebut belum mengiyakan. 
Memasuki awal oktober 2017 saat Puang Makka ke Habib Luthfi barulah ada signal darinya untuk baiah yang karena itu berangkatlah jamaah pilihan 24 orang ke Pekalongan sesuai yang dijadwalkan untuk menerimah ijazah tarekat Syadziliyah dari Habib Lufhfi yang diterima dari gurunya, Syekh Muhammad Ash’ad Abd. Malik, dari al-Alim Allamah Ahmad al-Nahrawi al-Makki, dari Mufti Mekah-Madinah al-Kabir al-Sayyid Syekh Shalih al-Hanafi dan seterusnya sampai ke Imam al-Syadzili dan seterusnya ke Rasulullah saw.
Habib Lutfhi dalam tausiahnya yang penuh hikmah, menjelaskan bahwa tarekat itu bersumber dari al-Mushthafa saw kemudian berpindah ke sahabat, tabiin dan seterusnya tanpa putus sambung menyambung sampai ke generasi sekarang bagai air yang mengalir dinikmati oleh mereka yang menerima ijazah tarekat.
Air yang mengalir itu dituangkan dengan sumber wadah berupa gelas secara bergantian, berpindah ke yang lain, ke generasi berikutnya namun airnya tidak berganti, airnya utuh terus mengalir dituangkan tanpa henti dan dinikmati oleh mereka disertai pemberian khirqah.
Khirqah adalah pakaian terusan dan memanjang, demikian silsilah sanad, demikianlah air mengalir terus dan memanjang tanpa henti. Dalam dunia tarekat khirqah ini identik dengan simbol, lambang penghargaan, tanda jasa atau singkatnya ijazah tarekat diberikan kepada mereka yang telah berbaiat tarikat.
Apakah orang yang berdoa sama-sama diijabah, ya tentu, tetapi ada doa yang sah, diterima karena ada ijazah asli yang diterimanya lalu disematkan padanya sebagai tanda bahwa ia telah berbaiah, ia lulus dan berhak untuk digunakannya. Ijazah selainnya boleh jadi ada tetapi tidak memiliki makna, karena ijazah yang dibuat-dibuat alias palsu dan pasti tertolak.   
Wallahu A’lam

By Mahmud Suyuti

PW MATAN Sulawesi Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *