HAUL SYEKH SYARIF HIDAYATULLAH DI UIN JAKARTA

HAUL SYEKH SYARIF HIDAYATULLAH DI UIN JAKARTA;

TENTANG AKU & SAHABATKU

Sejarah memang akan menjadi terkenang dan terkenal ketika sejarah telah dituliskan. Aku mencoba menuliskan sejarah yang terjadi di kampusku, dalam tiga kacamata bagian. Penulisan pertama adalah prolog, kemudian yang kedua motivasi penulisan, dan ketiga sebuah gagasan yang berkelanjutan untuk merubah peradaban dari yang kurang baik keranah yang lebih baik. Begitulah pemahamanku saat aku mesantren di Ponpes Babakan Ciwaringin Cirebon yaitu berpikirlah untuk yang terbaik “Ati Bagus Allah Qobul” & “Bismillah Diniati Ibadah”.Dari latar belakang kalimat inilah, aku akan memulai mengulus menganai kisahku yang berjuang untuk membangun peradaban di kampusku. Walau aku dahulu pernah mencalonkan diri menjadi Calon Wakil Dewan Esekutif Mahasiswa nomer urut 2 (Dua) di kampus UIN Jakarta, panggilan akrabnya kampus dari nama panjangnya kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Nomer 2 bagiku adalah sejarahku dalam pergerakanku. Masih kuingat janjiku, kampusku, bukan kampus yang sembarang kampus, namun kampusku adalah poros Islam di Negaraku. Maka aku wajib menjaga peradaban kampusku, untuk aku jaga dan aku kawal kelestarian budaya lokalnya. Budaya lokal yang menghormati dan menghargai penanam sejarah yaitu pahlawan yang ku sebut Sunan Gunung Djati nama lain dari Syekh Syarif Hidayatullah.

Kampus Pembaharu menjadi gambaranku untuk selalu mebuktikan bahwa kampus UIN Jakarta selalu baru dalam gagasan namun tak melupakan arti peradaban. Sejarah tetap berpengaruh terhadap masa depan. Begitulah aku membingkai foto di atas sebagai kilas perjuanganku di tahun 2015 akan kampusku dan sahabatku. Panjang cerita, akan sahabatku Ahmad Warto’i Muzafar. To’i panggilan akrabnya, ia mahasiswa Fakultas Ushulludin UIN Jakarta. Kerapkali ia mendampingku dalam berjuangan untuk berstrategi kebudayaan. Begitulah ia sangat setia menemaniku, dari panggung kepanggung untuk membacakan puisi.

Puisi yang ia kenal saat aku bacakan di panggung adalah “Sajak Palsu” karya Agus R. Sarjono. Sajak kepalsuan ini, aku ingin membuktikan bahwa aku bukan calon yang gagal, pemipin yang kalah, dan tidak punya peran karena tak bisa berkata serta tak bisa berkarya karena tak berposisi. Maka akan aku galangkan kekuatan untuk terwujudnya kampus yang kenal akan sejarah ia hadir dan dihadirkan. Kampus Islam tetap kampus Islam, walau ia berganti nama Universitas. Masyarakat akan beranggapan kampus Islam pencetak generasi yang siap memimpin akhlaq dan memimpin umat dalam ranah intelektual dan spiritual yang mempuni. Indonesia akan sejahtera, dengan kedamaian yang dimiliki pemudanya, ketika mereka padai beradab dan berakhlaq karena ilmunya bukan sekedar wacana dalam kata.

Saksi berjalan aku dengan gagasan ini adalah sahabat yang lain yang telah ikut serta membangun strategi kebudayan ini yaitu  Muhammad Ali Husan. Dia adalah sahabat aku yang sekarang menjadi mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta. Pada saat itu, dia menjabat ketua umum pada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Himpunan Qori’ dan Qori’ah Mahasiswa (HIQMA) UIN Jakarta di tahun 2015 kemarin.  Husen panggilan akrabnya mengajakku dan siap membantu gagasan aku direalisasikan dalam peranku menjaga sejarah dan mengawal sejarah dalam peradaban di kampusku. Kegiatan Dialog Nasional Kebudayaan & Haul Syekh Syarif Hidayatullah dalam bingkai Festival Seni Islami Tingkat Nasional dengan tema “Menguak Raja Cirebon; Sejarah Syekh Syarif Hidayatullah & Kontribusinya untuk Nusantara” menjadi saksi sejarah perjuanganku dengan sahabtku Husen. Kegiatan ini dilaksanakan di tempat sentra Kampus Pembaharu UIN Jakarta, Auditorium Harun Nasution, 18 November 2015.

Maksudnya aku menulis ini, aku dengan tegas ingin menuangkan gagasan kepedulian. Bahwa dengan tegas aku mengajak, mari kita sadar khittah sebuah keadaan dan keberadaan hadirnya suatu gagasan. Gagasan apa? Gagasan kampus Islam. Aku berpikir Kampus Islam adalah melahirkan para itelektual yang memiliki spirit yang kuat dalam adab dan etika sosial. Maka jelas mahasiswa sebagai agen kontrol dan agen penerus kehidupan, perlu hadir dengan kepekaan dalam kesadaran sejarah yang sejelas-jelasnya. Kita hadir perlu hormat, menghargai, dan hendak mencari yang sebenarnya sejarah untuk membangun peradaban yang beradab. Seperti para guru aku berkata, “Lebih baik memiliki ilmu sedikit namun beradab, daripada banyak ilmu tak beradab”. Semoga bentuk peringatan Haul Syekh Syarif Hidayatullah di UIN Jakarta adalah bentuk adab aku pada Sunan Gunung Djati nama sapaan akrabnya, sebagai tabarukan seorang murid pada gurunya. Selain itu tulisan ini sebagai hadiah di tahun kabisat 2016 untuk sahabatku bahwa aku tentangku, masih semangat untuk selalu berjuang, beriringan bersama kalian.

Masih kita ingat, siapa saja yang hendak kami hadirkan pada acara Haul Syekh Syarif Hidayatullah yaitu diantaranya:

Pembicara Kunci: Drs. Lukman Hakim Saifudin* (Menag RI)

Narasumber
1. Prof. Dr. Dadan Wildan M. Hum (Deputi Humas & Kelembagaan Mensesneg RI)
2. Prof. Dr. Kacung Marijan, Ph. D (Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI)

Sambutan:
1. Prof. Dr. Dede Rosyada, MA (Rektor UIN Jakarta)
2. PRA Arief Natadiningrat, SE (Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon)
3. H. Drs. Tubagus Ismetullah al-Abbas (Sultan/Kenadziran Banten)

Doa untuk Bangsa: KH. Rd. Syarif Rahmat RA, SQ, MA (Pengasuh PADASUKA)

Kebaikan yang hendak kami sebarkan adalah kebaikan bershodaqoh amal jariyah. Bershodaqoh dengan jika tidak dengan harta, dengan gagasan, atau lebih-lebih turun kelapangan dengan tenaga. Gagasan yang baik, tidak akan mudah luntur dengan berjalannya sejarah yang dituliskan sedemikian rupa. Karena kebaikan akan selalu diserang oleh keburukan. Maka kebaikan agar selalu kuat, aku hendak mengajak mari kita organisir kebaikan untuk mengalahkan keburukan yang terorganisir. Indonesia merdeka kerena jiwa kita cinta untuk bersatu dan satu tujuan. Begitulah cita-cita kemerdekaan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) agar tak diusik oleh penjajah atau yang hendak jahat pada persatuan kita. Beberapa kalimat penutup dari aku untuk penyemangat hidup pemuda Indonesia dalam peran sertanya mengawal kemerdekaan; “Hidupmu sekarang adalah cerminanmu di masa yang akan datang. Maka akan aku tinggalkan sejarah tertulis yang mampu dibaca dan mejadi kemaslahatan umat. Kemaslahatan yang membentuk manusia insan kamil yang rahmatan lil ‘alamin.” Bismillah semoga manfaat!

Siapa Kita? MAHASISWA

Siapa Kita? MAHASISWA

Siapa Kita? MAHASISWA

Apa Negara Kita? INDONESIA

Apa Dzikir Kita? LAILAHAILALLAH

Ciputat, 29 Februari 2016 // Ahmad Khoeri (Mahasiswa UIN Jakarta sebuah Kampus Pembaharu)

https://www.kompasiana.com/ahmad_khoeri/haul-syekh-syarif-hidayatullah-di-uin-jakarta-tentang-aku-sahabatku_56d5073750f9fd7b46de00b2

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *