NADA INDAH, AKHLAQ MULIA

​Di sebuah lagu Ada intro, ada reffrain, ada ending. Di sinematografi ada konsep drama tiga babak. Pengenalan aktor, klimaks cerita, anti klimaks-kesimpulan.
Semua tentang mengatur tensi. Tujuan akhir agar karya tersebut mempunyai kesan kuat, menjadi legenda karya seni.
Kadang pekerja seni yang belum pofessional melakukan kesalahan umum dengan keburu menunjukkan segala kemampuan di awal lagu atau pertunjukan. Over act.
Sehingga awal sampai akhir hanya sebuah show off kemampuan teknis, tanpa meninggalkan kesan mendalam sebagai hakikat tujuan seni itu sendiri. Hanya menimbulkan keheranan, bukan kedalaman rasa. Lebih mirip sebuah sirkus akrobatik daripada seni.

*

Nah, sekarang, sampean pasti akrab dengan nada dering Nokia atau notasi dasar jingle Aqua. Begitu sederhana tapi menancap.
Kesederhanaan nada itu bukan karena ketidakbisaan menciptakan komposisi rumit. Tetapi pada perhitungan serapan kemampuan pendengar. Pastinya di belakang proses penyederhanaan itu ada sosok ekspertise.
Ehm.. seperti juga dalam dunia dakwah. Ada pendakwah yang begitu bicara langsung memberondong dengan puluhan dalil dan logika-logika. Tanpa intro. Sibuk bermain skill teknis tanpa bisa menyatu dengan perasaan pendengar. Persis seperti musisi pemula. Hanya ingin didengar, bukan menyuguhkan yang terindah.
Ada juga pendakwah yang hanya bicara sederhana seperti ringtone Nokia. Singkat, sederhana tapi mengena dan melegenda. Hal ini sering dilakukan para wali jaman dahulu. Belajar ilmu ke penjuru bumi, membaca ribuan teks kuno, membaca berbagai perbandingan tafsir dan mahzab,… eh, produknya cuman lirik dan notasi sederhana lir ilir. Yup, sebuah pesan lewat nada yang memuat intisari dari komposisi rumit agama.
Notasi dasar inilah yang disebut proses tuntunan lelaku utama atau akhlak. Bisa ahlak pada Tuhan maupun manusia. 
Tanpa notasi dasar yang kuat, sebuah dakwah atau aransemen tulisan yang rumit tak akan memberi kedalaman rasa yang menggugah jiwa. Hanya bikin takjub sesaat, di belakang hari malah bikin jiwa bertambah lelah. Sumber GWA MATAN INDONESIA diposting oleh Alex Fauzan Jam 02:31 27 Agustus 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *