Menjadi Sarjana Takwa yang Bersyukur

MENJADI SARJANA TAKWA YANG BERSYUKUR

Saudaraku _rahimakumullah_….
Jumat ini sangat istimewa
Kita diingatkan pesan takwa 2x, pertama, pagi saat khutbah idul fitri dan untuk yang kedua kalinya, khatib shalat Jumat pun kembali menyampaikan pesan takwa untuk seluruh jamaah, juga untuk diri khatib pribadi.

Setiap khatib menyampaikan selamat lebaran dan selamat liburan, terlebih kepada yang dosanya telah dilabur dengan cat warna putih, dosa tadi seperti besi, walaupun keras namun dengan rahmat dan ampunan Allah yang meluber, dosa dan salah menjadi lebur.

Saudaraku yang dicintai Allah..

Setiap khatib juga ingin menyampaikan selamat, *selamat wisuda*, selamat memperoleh predikat sarjana. Wooooww, sarjana apa?? Yaitu ST.. Sarjana Taqwa.

Ramadan itu bagaikan Universitas, Universitas Ramadan namanya. Allah sebagai Rektornya, Rasul Muhammad sebagai Profesornya, kyai, ustadz dan ustadzah sebagai dosennya, lalu siapa mahasiswanya? Tidak lain tidak bukan adalah kita… muslimin wal muslimat. Hanya dengan satu syarat, yaitu beriman, maka kita sudah sah menjadi mahasiswa di Universitas Ramadan.

Albaqarah ayat 183 menyebutkan,
“wahai orang-orang yang beriman.” Allah menyeru kita untuk menjadi mahasiswanya. Kurikulumnya adalah puasa, menahan lapar dan haus, segala macam perasaan dan perbuatan indra. Ada SKS yaitu salat taraweh, membaca dan memahami Alquran, sedekah, infak, sampai zakat fitrah, semuanya ringan, tidak ada skrpsi, ujiannya langsung kepada Allah dan setiap saat kita diuji oleh-Nya secara langsung, karena kata Allah _Ashshawm liy_ “puasa itu untukku” dan aku langsung yang akan membalasnya, kata Allah..

Saudaraku yang Beriman..
Siapa yang sukses memenuhi semua kurikulumnya maka tibalah hari ini menjadi mahasiswa yang lulus dan diwisuda menjadi sarjana takwa.

Pertanyaannya, apakah cukup dengan gelar sarjana lalu kita puas? Bukankah seorang sarjana dipersiapkan untuk mengabdi, berkarya dan bermanfaat bagi masyarakat? Maka usai Ramadan, usai kita diwisuda saat hari raya idul fitri, ada tugas menanti, yaitu mengamalkan ketakwaan dan mempertahankannya, karena bisa jadi bila kita tidak amanah, gelar tersebut akan dicabut kembali. Lalu apa yang harus kita lakukan?

Saudaraku para sarjana takwa.

Allah lanjutkan firman-Nya dalam Albaqarah: 185. Pada akhir ayat, Allah seakan-akan memberikan petunjuk melalui kode ayat-ayat-Nya. Allah katakan _Walituqmilul ‘iddata Walituqabbirullaha ‘alaa maa hadaakum la’allakum tasykuruun_. “Dan hendaknya kalian sempurnakan bilangan puasa kalian dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas apa yang Dia telah tunjukkan kepada kalian, agar kalian semua menjadi orang-orang yang bersyukur.”

Ada tiga kata kunci dalam penggalan firman tadi, setelah kita menjadi sarjana takwa yang harus dilakukan adalah sebagai berikut.

*Pertama*, _Walituqmilul ‘iddata_, maksudnya hendaklah kita menyempurnakan bilangan puasa, dengan makna lain yaitu kita *sempurnakan semangat berpuasa* kita.

Puasa yang hakikatnya ibadah untuk Allah tidak hanya dilakukan saat wajib karena ada perintah di bulan Ramadan. Siapa yang mengaku cinta kepada Allah, kalau memang cinta pasti kita akan rela melakukan apa saja untuk-Nya. Puasa adalah wujud cinta hamba kepada Allah, oleh karena itu mari rasa-rasanya tidak cukup kita berpuasa hanya satu bulan. Apakah kita rela bertemu dengan Zat yang kita cinta hanya satu bulan? Tentu kita ingin selalu berjumpa dengan-Nya. Jadi mari kita berikrar.

Yaa Allah.. Tuhan yang aku cinta, atas nama cinta kepada-Mu, aku akan berpuasa full selama satu tahun.

Aku puasakan mataku dari pandangan-pandangan maksiat.

Aku puasakan telingaku dari berita-berita fitnah, berita-berita tak berfaedah, gosip, ghibah, dan hal-hal yang tak pantas untuk didengar.

Allah…. Aku puasakan hidungku, aku tak ingin mencium dan mengendus proyek-proyek siluman dan peluang-peluang untuk korupsi.

Duh Gustiii.. Aku puasakan mulutku supaya tidak memfitnah dan menyebarkan berita-berita hoax serta berbohong.

Ilaahi… Aku puasakan tanganku supaya tidak mengambil yang bukan haknya supaya tidak menyentuh yang bukan mahromnya dan supaya tidak asal klik Copas dan mengeshare berita yang belum jelas asalnya.

Tuhan.. Aku puasakan kakiku, aku tahan supaya tidak menuju ke tempat laknat dan maksiat.

Dan Allah aku akan puasakan pikiranku, akalku, hati sanubariku, dan perasaanku. Aku tahan hal-hal duniawi masuk dalam pikiran dan hatiku sehingga hanya Engkaulah yang bermukim dalam pikiran dan hatiku. _Maa fi qalbiy ghairullah._ Tak ada apapun dalam hatiku kecuali Engkau Ya Allah.

Saudaraku, puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, namun juga menahan apa yang telah kita ikrarkan tadi.

*Kedua*, _Walituqabirullah_. Kita mengagungkan Allah, kita bertakbir. _Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar_ . Kita serukan Allah Maha Besar. Secara logika _mafhum mukhalafah_ atau pemahaman terbaliknya, ketika kita katakan Allah Maha Besar, berarti Yang Besar itu Allah, dan manusia itu kecil. Ketika kita mengagungkan membesarkan Allah seketika itu juga kita harus mengecilkan diri kita. kita itu makhluk kecil, kita tidak boleh merasa besar, tidak boleh merasa kaya, merasa hebat, merasa berpengaruh, mentang-mentang pejabat atau konglomerat, seketika itu pula kita telah melakukan tindakan dan perasaan sombong.

Padahal sombong itu hanya milik Allah, “keagungan adalah pakaian-Ku, dan kesombongan adalah selendangKu”, demikian kata Allah. Jadi manusia sombong berarti telah merampas selendangnya Allah. Apakah dia tidak takut akan murka Allah?

Saudaraku, apakah kita tidak ingat sejarah awal mula diciptakannya manusia modern pertama, Adam as? Seorang makhluk yang tinggi derajat maqamnya, jenderal para malaikat, berkualitas ibadah dan ketaqwaannya, namun seketika dia kufur kemudian dilaknat oleh Allah dan diusir dari surga, satu hal yang dilakukannya, SOMBONG! Dialah sang Azazil yang kemudian menjadi iblis _laknatullah_, dialah _’aduww mubiin_ yaitu musuh yang nyata bagi manusia.

Saudaraku yang kucinta karena Allah.

Ternyata beriman, berislam, bertakwa dengan melakukan kebajikan, namun semuanya tak ada artinya apabila kita sombong. Kurang hebat apa Azazil, surga menjadi rumahnya, jenderal malaikat jabatannya, seorang hamba yang tentu sangat beriman kepada Tuhan. Bagaimana tidak, dia mampu berkomunikasi langsung dengan Tuhannya, namun seketika runtuh karena kesombongannya, dia merasa lebih hebat dan dia merasa lebih mulia.

“Yaa Allah, aku api dan dia adalah lumpur hitam, masa aku sujud hormat kepadanya?” demikian kata azazil sang iblis. _Abaa wastakbar_ Iblis enggan dan sombong.

Saudaraku yang takut dan tunduk kepada Allah.

*Poin ketiga* adalah janganlah kita sombong karena suku kita, kaya kita, pangkat jabatan dan strata sosial kita, cukuplah sombong hanya milik Allah. Kita kecilkan diri kita karena yang besar dan yang sudah pasti Maha Besar itu hanya Allah. Maka kata Allah, seorang muslim yang beriman kemudian berpuasa maka dia menjadi _muttaqin_. Ternyata dia tetap mempertahankan gelarnya dengan terus berpuasa dan dia tidak sombong, dia kecilkan dirinya dan dia agungkan Tuhannya, maka Allah jadikan dia sebagai orang yang bersyukur.

Sebagaimana penutup Albaqarah:185, _La’allakum tasykurun_, karena oleh Allah, siapa yang bersyukur akan Allah tambah nikmat untuknya, barangsiapa kufur sungguh azab Allah sangatlah pedih.

Kita tentu tidak ingin merasakan azab pedih itu bersama iblis yang sombong. Mari bersyukur, Allah berkenan menambah nikmat untuk kita.

Selamat ‘id alFitri 1439.
Mohon maaf lahir batin. 🙏🏻🕋🌹
_Dari nol lagi yah._😆
Semoga bermanfaat.
Oleh Mohali Husen Umar (Koordinator Pengurus Bidang Sosial dan Keagamaan PC MATAN Ciputat)
Banyumas, 1 Syawal 1439 H

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *