Bubur Asyura


Bubur Asyura 

Mahmud Suyuti

Dosen Hadis UIM dan Ketua MATAN Sulsel
Sabtu besok (30/09) bertepatan hari Asyura, tanggal 10 Muharram 1439 Hijriah. Istilah Asyura berasal dari kata ‘asyara yang berarti angka sepuluh, jadi Asyura adalah hari kesepuluh Muharram bulan pertama dalam kalender tahun Hijriah.
Umat Islam disunnahkan berpuasa pada setiap hari Asyura dan dianjurkan berbuka dengan menu khas yang disebut bubur Asyura. Nabi SAW menjelaskan bahwa puasa Asyura dapat menebus dosa satu tahun. Hadis lain bahwa pahala puasa Asyura setimbang pahala 10.000 malaikat. Ditemukan pula riwayat berupa dalil  bahwa puasa Asyura sama kedudukannya menunaikan ibadah haji dan umrah, serta kelak bagi mereka di akhirat diberi kedudukan sama dengan orang mati syahid.
Selain berpuasa dan karena lantaran kemuliaan Asyura yang menawarkan berbagai kebaikan, maka bagi umat Islam sengaja memanfaatkan hari Asyura sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mengisi berbagai kegiatan untuk memperoleh kemuliaan dan keselamatan hidup serta keberkahan. Itu  tercermin dengan munculnya ritual sekaligus tradisi membelanjakan harta di jalan Allah, menyantuni anak yatim, berzikir dan doa bersama/berjamaah. 
Membelanjakan harta di jalan Allah di momen Asyura fokus untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang umum digunakan untuk keperluan sehari-hari, misalnya alat-alat dapur dan perlengkapan masak-memasak, mulai dari belanga, piring, sendok, ember dan lain sebagainya. Meskipun dalam pelaksanaannya ada yang berbelanja di luar dari kebiasaan umum yakni membeli pakaian baru, kulkas dan mobil baru.
Setelah Asyura atau hari kesepuluh Muharram berlalu, mereka sudah menganggap seperti hari-hari biasa saja. Karena  itu, kegiatan masyarakat muslim pada hari Asyura sering menarik perhatian oleh pihak pedagang, hampir di setiap pasar dan toko yang menyediakan peralatan rumah tangga ramai dikunjungi oleh ibu rumah tangga, kaum remaja, bapak-bapak, maupun anak-anak. Mereka bahkan ada yang berdatangan dari tempat-tempat yang jauh dan sangat terpencil di pelosok-pelosok desa. Dalam kegiatan tersebut mereka terkadang harus rela melakukan antrian di toko-toko maupun pasar tradisional yang menyediakan alat-alat rumah tangga. Kondisi ini terjadi karena mereka harus memperoleh keperluan belanja yang  sama.

Masyarakat yang menyempatkan diri untuk memperoleh alat-alat rumah tangga tersebut, diyakini mendapatkan berkah karena telah merayakan hari Asyura secara baik menurut ajaran agama dan sudah tentu akan memperoleh keberkahan dalam kehidupan selama satu tahun itu, hingga datangnya hari Asyura tahun mendatng, sedangkan yang tidak melakukan kegiatan belanja, kemungkinan berkah kebaikan yang diharapkan akan jauh dari kehidupannya.
Amaliah penting lainnya di Asyura ini adalah sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi SAW, siapa yang mengusapkan tangannya kepada anak yatim di hari Asyura, maka Allah SWT mengangkat derajatnya pada setiap helai rambut anak yatim itu. Hadis lain menyebutkan bahwa setiap lembar rambut anak yatim yang disantuni pada hari Asyura akan memperoleh satu ampunan (HR ‘an Abdullah bin Abbas RA). 
Kontekstual hadis tersebut, terutama pada teks mengusapkan tangan ke anak yatim memang menjadi tradisi masyarakat Bugis-Makassar yang disebut ritual massapusapu ulu bermakna sebagai bagian dari upaya melakukan anjuran berlapang dada sejalan dengan tuntunan agama agar memberikan perhatian kepada para anak yatim piatu yang kebanyakan terlantar kehidupannya, namun lebih bermakna jika dibarengi dengan kegiatan penyantunan terhadap anak yatim piatu dengan cara memberi sumbangan sebab mengandung kemuliaan yang dapat diperoleh dengan memberikan santunan pada hari Asyura ini, antara lain bertambahnya rezki bagi yang melakukannya. 
Ritual yang tidak kalah pentingnya dan mentradisi di hari Asyura bagi umat Islam yang berpuasa adalah berbuka dengan bubur Asyura. Menu khas bubur yang terdiri dari sepuluh jenis bahan penganan sebagaimana dalam riwayat hadis saat perahu Nabi Nuh AS merapat dengan selamat di daratan bertepatan dengan hari Asyura setelah mengarungi banjir  terbesar melanda dunia saat itu.
Ketika bahtera Nabi Nuh AS berlabuh di bukit Ju’udi pada hari Asyura, bertanyalah kepada kaumnya. Masih adakah bekal yang tersisa untuk dimakan ? umatnya kemudian mengumpulkan seluruh sisa-sisa bahan makanan lebih yang jumlahnya sepuluh jenis, yakni satu genggam gandum, kacang adas, kacang hintah, kacang ba’ruz, baqilah (kacang poi), tepung, daging ikan, dedaunan, garam dan santan. Disatukanlah bahan-bahan tersebut kemudian dimasak menjadi santapan lezat berupa bubur.
Jika penganan bubur tidak mencukupi sepuluh jenis bahan seperti yang disebutkan atau jika kurang dari itu maka tidak dapat disebut bubur Asyura. Saat sekarang ini untuk membuat bubur Asyura, tergantung kesukaan jenis bahan mana yang cocok dan sesuai asalkan jumlahnya sepuluh jenis bahan ramuan, itulah bubur Asyura.    
Bubur Asyura dihidangkan dalam keadaan panas dan ada cara khusus mencicipinya, yaitu dengan mengambil sebuah sendok sedikit demi sedikit mulai dari pinggir piring atau mangkok secara memutar mulai dari arah sebelah kanan. Ini sebagai salah satu seni menyantap bubur Asyura agar terasa hangat karena makanan dan minuman berdasarkan hadis Nabi SAW tidak boleh ditiup.
Makna lain sebagai simbol sekaligus hikmahnya, adalah mencontoh strategi Nabi SAW setiap berjihad, berperang dengan bergerak dari pinggir melalukan serangan secara perlahan menuju ke tengah membuat parit-parit yang menghalangi lawan. Demikianlah juga dalam melakukan usaha, dimulai dari usaha kecil-kecilan untuk menuju usaha besar dan menjadi pengusaha sukses.

 Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *