​KH Amin Siroj Tutup Usia, Generasi Kedua Keturunan KH Muhammad Said Habis


Satu lagi sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) wafat. Adalah KH Amin Siroj, pengasuh Pondok Pesantren Gedongan Cirebon yang tutup usia pada hari Senin pagi (7/8) sekitar pukul 04.30.

Berita duka diterima langsung cirebonplus.com dari putra pertama Kiai Amin, KH Wawan Arwani via pesawat telepon seluler (ponsel) pas waktu subuh. Beberapa saat kemudian berita duka pun menyebar melalui berbagai media sosial (medsos).
Kiai Amin meninggal saat sedang dirawat di Rumah Sakit (RS) Gunung Jati. Beliau masuk RS beberapa jam sebelumnya karena mengeluh sakit.
Kiai Amin merupakan cucu dari Pendiri Pondok Pesantren Gedongan, Cirebon, KH Muhammad Sa’id. Ia putra bungsu dari KH Siroj. Itu artinya, beliau adalah paman dari Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Dr KH Said Aqil Siroj.
Dengan wafatnya Kiai Amin, maka keturunan KH Muhammad Said generasi kedua telah habis. Karena itu semasa hidup, beliau merupakan ulama dengan lungguh paling sepuh, terutama antara Pesantren Gedongan dan Pesantren Kempek.
Nasab beliau merupakan untaian emas yang telah memberikan kontribusi besar dalam sejarah penyebaran Islam terutama di wilayah Cirebon dan sekitarnya.
Informasi yang dihimpun cirebonplus.com, Kiai Said semasa remaja merupakan orang yang haus ilmu, terutama keislaman. Selain menguasai ilmu-ilmu khas pesantren, beliau juga memahami kesusastraan Arab.
Selain dari orang tuanya, gemblengan ilmu agama didapat Kiai Amin dari para kiai di sejumlah pesantren. Sebelum menimba ilmu di berbagai pondok pesantren di Pulau Jawa, beliau terlebih dahulu mendapat tempaan dari ayahnya yaiu KH Siroj. Selama masa perjalananya mencari ilmu, KH Amin Siroj pernah nyantri di berbagai pondok pesantren di antaranya adalah Kempek,  Lirboyo, sarang Rembang serta yang lainya.
Sepulang dari pesantren, beliau kembali ke tanah kelahiranya di Pesantren Gedongan. Pada saat itu Gedongan belum ramai oleh santri seperti sekarang. Meskipun demikian proses mengajar para santri tetap berjalan. Pada saat itu, pesantren Gedongan diasuh oleh kakak-kakaknya seperti Kiai Yusuf dan Kiai Ma’sum.
Ahirnya, Kiai Amin pun mulai dikunjingi oleh beberapa santri. Yang kemudian hingga sekarang beliau mendirikan sebuah pesantren yang dinamakan dengan Pesantren Sirojussu’adai. Sampai sekarang, beliau masih tetap mengajar santri-santri dengan penuh kesabaran meskipun dalam kondisi kesehatan yang terkadang harus mendapatkan penanganan serius dari dokter.
Dari pernikahanya bersama Ny Hj Aini, Kiai Amin dikaruniai lima antara lain KH Wawan Arwani Amin yang sekarang menjadi pengasuh Pondok Pesantren Nur Arwani Buntet Pesantren, KH Imron Rosyadi pengasuh Pondok Pesantren Assyakiroh Buntet Pesantren, Ny Hj Ummu Aiman pengasuh Pondok Pesantren di Pati Jawa Tengah, Ny Hj Halimatussa’diyah, dan Ny Hj Mumun Maimunah. 
Saat mondok, beliau satu angkatan bersama mantan Rois Syuriah PBNU almarhum KH Sahal Mahfudz dari Kajen, Pati, Jawa Tengah.
Kedekatan keduanya lebih dari sesama santri sepondok, tetapi juga teman diskusi dalam keilmuan. Ada satu riwayat yang menceritakan, saat sedang bersama-sama mengaji kitab, KH Sahal Mahfudz (Kiai Sahal) tiba-tiba mengambil secarik kertas dan menuliskan syair-syair pujian berbahasa Arab yang diserahkan kepada Kiai Amin.
Surat pun berbalas dengan bahasa Arab pula. Kebiasaan tersebut terus berlanjut saat sudah sama-sama boyong ke rumah masing-masing.
Tak disangka, syair-syair itu masih dihafal dengan oleh Kiai Amin hingga usia lanjut. Padahal surat-surat itu sudah tidak berwujud, tidak tersimpan. (*)

Laporan: Abdul Bari

Sumber: http://cirebonplus.com/berita/kh-amin-siroj-tutup-usia-generasi-pertama-keturunan-kh-muhammad-said-habis/

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *