​BULAN AGUSTUS; ANTARA TUNAS KELAPA, GENERASI MUDA, DAN BENDERA MERAH PUTIH


Peristiwa bersejarah pada Agustus ini akan tetap kita peringati. Suasana teriakan merdeka para pahlawan pendahulu semakin terdengar. Jalinan persatuan dan kesatuan demi menjaga dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia harga mati pun harus diperkokoh. Lintas generasi saling berpacu mengukir sejarah baru mencipta Generasi Indonesia emas.

Generasi muda kreatif, produktif dan bertanggunjawab tentu tidak akan teralienasi identitasnya dalam komunitas makro sebagai warga Negara. Sebaliknya, generasi yang terlena dan sakau karena candu media siber cenderung akan berperilaku patologi sosial. Pemuda yang patologi dan antipati sosial, sebaiknya dikursuskan dalam kandungan patriotisme dan religius. Agar tidak menambah beban kuota jejaring sosial di media siber karena memberitakan hoax massal secara massif.

Pembibitan generasi patriotisme, religius-spiritualis, dan adaptif terhadap problematika sosial yang komprehensif, telah dan sedang diupayakan pemerintah beserta seluruh stakeholder dan lapisan masyarakat terdidik dan kompeten di bidang masing-masing.

Bagaimana menanam-tumbuh-kembangkan nilai patriotisme generasi yang candu siber meraih jiwa suci nan pemberani menggapai generasi Indonesia emas?. 

Sebagai simbol gerakan praja muda karana, tunas kelapa, hemat penulis menjadi modal utama memupuk patriotisme. Semua jenjang usia patut mengurai semangat tunas kelapa yang hidup dinamis di atas tanah air tercinta. Perasaan senasib seperjuangan dalam penjelajahan suci membela tanah air ini, memperkecil Paradigma sparatis dan individualis mikro dan makro. Setiap kita, warga Negara adalah pramuka, yang harus berada dalam satu aba-aba menjunjung tinggi patriotism masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Revitalisasi patriotisme yang meningkat menjadi tolok ukur keberhasilan regenerasi Indonesia emas. Begitupun menanggulangi candu media siber yang perbuatan kriminalitas maya; pencurian data, perampokan, pembobolan dan peretas interaksi dan komunikasi virtual melalui pemberitaan hoax dan seterusnya.

Semangat Patriotisme, hemat penulis tidak cukup sekedar mempersiapkan sumber dana dan sumber daya, melainkan butuh keteladanan total dan kebesaran hati seluruh guru sampai guru besar, sebagaimana telah dicontohkan para guru bangsa. Baik teladan aspek budaya, ekonomi, sosial, politik dan agama.

Patriot sejati selalu menjunjung tinggi kesucian jasmani-rohani, dan berani berdiri sama tinggi di kancah international dalam mengurai resolusi konflik global menggapai harmonisasi kemanusiaan. Peran-peran tersebut di bangun dan di viralkan melalui ruang-ruang nyata maupun ruang maya secara berimbang. Bukan patriot yang di bully oleh media siber itu sendiri.

Semakin kokoh dan kuat tunas kelapa di dalam hati sanubari, maka semakin menjadi jelas warna Merah-Putih tegak berkibar di tangan generasi pecinta siber hari esok dan lusa. 


Misalnya, kegiatan yang diberitakan oleh Syakir NF/Mahbib dalam www.nu.or.id. pada kamis, 17 Agustus 2017 08.31 Wib, berjudul MeneladaniPara Wali, Media Siber Bisa Jadi Alat Dakwah. Merupakan contoh bentuk kegiatan sinergi yang dilakukan segenap pemuda ciputat, Tangerang Banten. Dalam acara Cafe Sufi bertemakan “Religiusitas dalam Media Siber Menggapai Cahaya Kemerdekaan, merupakan contoh yang patut dikembangkan. Acara yang diselenggarakan Mahasiswa Ahlith  Thoriqoh Al-Mutabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) Ciputat ini dinahkodai kang Atmo Prawiro, M.E.Sy-Mahasiswa S3 UIN Jakarta- menyadari pentingnya kaderisasi pemimpin melalui organisasi tarekat. Sebagaimana yang pernah ditulis dalam http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/esoterik/article/view/1892 Islam dan Tasawuf di Indonesia: Kaderisasi Pemimpin Melalui Organisasi Matan. Salam Merdeka!!!

Dilanjutkan malam Ahad, 19 Agustus 2019 dihadiri Syeikh Sayyid Abd. Rahim Assegaf Puan Makka (Mursyid Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makkasary, dengan tema Menyoroti Spiritualitas Pemuda dalam Mensyukuri Arti Kemerdekaan, sebagai catatan akhir, moderator menyimpulkan walaupun Tasawuf dan Tarekat telah diurai panjang lebar, tapi ilmu Allah Taala teramat luas. Dengan Ilmu diiringi amal akan menghasilkan energi. Energi positif yang muttashil dari para syeikh para mursyid dari Rasulullah SAW. Melalui Jibril dan diriloi Allah Subhanahu wa Taala. Marilah kita mempersiapkan diri menerima energi, agar hati mendapatkan cahaya sebagai modal menjalani hidup dengan bahagia, karena kita selalu bersama Allah dimana dan kapan pun berada. Lebih lengkap lihat www.moslemvideo.com Ngaji Sufi Bersama Sayyid Rahim Assegaf Puang Makka. 

Sebagai santri generasi penerus, mari kita tingkatkan patriotisme melalui kegiatan amar maruf nahi munkar melalui media siber. Agar kita semua mampu beragama secara kaffah; seimbang antar Islam, Iman, dan Ihsan. Agar menjadi generasi yang bisa menjaga kesucian rohani-jasmani. Karena mensucikan diri dari segala pengaruh nafsu syahwat adalah kemerdekaan yang sejati. Allahu Alamu Bisshowab.

    

  • *Farhan ; Matan Ciputat dan Mahasiswa UIN Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *