UIN JAKARTA KEHILANGAN IDENTITAS

Kementerian Agama, telah membuktikan bahwa perguruan tinggi keagamaan yang dibawahinya, melesat dan mencapai kualitas yang mumpuni. STAIN, IAIN, dan utamanya UIN mencapai perkembangan yang membanggakan.

Terbukti dari banyaknya prestasi dan pencapaian yang disampaikan dalam pelbagai forum maupun pemberitaan. Jurusan-jurusan ilmu non-agama, mulai mendapat pengakuan secara nasional maupun internasional.

Tentu itu itu patut dibanggakan dan diapresiasi. Hal itu pun berdampak pada kenyataan bahwa kini, untuk taraf perguruan tinggi agama Islam, khususnya UIN, ada perubahan paradigma bahwa yang dipandang adalah bukan jurusan keagamaannya, namun lebih ke jurusan umumnya.

Kekhawatiran ini agaknya bukan hal yang polemis. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dipandang mengisyaratkan hal ini. Pertama, jumlah pendaftar jurusan di UIN, banyak bertumpuk pada jurusan-jurusan dengan masa depan cerah, seperti kedokteran, ilmu-ilmu kesehatan, teknik informatika, ilmu-ilmu alam, atau setidaknya adalah jurusan-jurusan ilmu ekonomi, ilmu sosial dan ilmu politik dan ilmu kependidikan. Lantas, di mana letak jurusan-jurusan agama sebagai ciri khas PTAIN?

Tentu hal ini patut dibanggakan. Sebagaimana disebutkan dalam sekian pemberitaan, bahwa UIN, terlebih UIN Jakarta tempat saya menempuh studi, adalah satu kampus dengan angka peminat pendaftar yang begitu tinggi.

Bapak Rektor pun juga mengatakan, “Kepercayaan masyarakat kepada UIN Jakarta semakin meningkat,” demikian keterangannya dalam sebuah gelaran wisuda sarjana.

Harus diakui bahwa sekian jurusan yang justru menjadi identitas UIN bahkan IAIN sejak lampau, adalah pilihan kesekian di kampus yang dipercaya masyarakat. Jurusan-jurusan agama terkesan turun pangkat atau jika memang tidak, kehilangan gairah.

Kedua, jika memang berulang-ulang dikatakan bahwa publikasi sivitas akademika UIN Jakarta itu menurun dan belum mencapai standar internasional yang diharapkan, tentu ada beberapa sebab. Hari ini, jurnal dan karya ilmiah yang dipandang paling otoritatif di UIN Jakarta adalah yang disusun oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat, yaituStudia Islamika. Konon jurnal ini telah terindeks di Scopus, satu pusat indeks jurnal kenamaan di dunia.

Sebenarnya secara kelembagaan UIN Jakarta punya banyak sekali jurnal ilmiah, di tingkat universitas bahkan sampai program studi. Selain perkara akreditasi, seiring waktu jurnal-jurnal tersebut akan bersaing dengan jurnal-jurnal kampus lain yang setema, semisal dari Fakultas Ekonomi, Ilmu Budaya, atau Kedokteran di kampus-kampus perguruan tinggi lain yang berada dalam naungan Kemenristekdikti.

Seseorang bisa berkata kita punya potensi, tapi mengejar yang telah tertinggal dalam persaingan, tanpa penguatan identitas terlebih dahulu, rasanya hanya mengejar bayang-bayang.

Hari ini, agaknya orang tetap berharap, juga sebagaimana sering dikutip rektor, UIN dan institusi keagamaan lainnya tetap diharap menjadi ujung tombak pengkajian Islam untuk pendidikan, kebudayaan, dan pengembangan masyarakat.

Tentu saja jurusan-jurusan umum menjadi nilai plus. Namun, berbicara bahwa UIN Jakarta akan setara bahkan lebih maju di depan kampus-kampus lain di Indonesia, tanpa penegasan identitas, pada akhirnya UIN Jakarta akan tampak elegan dan megah secara peringkat ini peringkat itu.

Namun institusi pendidikan tinggi agama yang sebagaimana diharapkan oleh para pendahulu, menjadi hampa identitas dan miskonsepsi.

Agaknya jika tulisan ini bertendensi untuk kembali ke zaman lampau, serta semangat yang dibawanya sangat tidak kontekstual, jelas perlu ada obrolan panjang lebih lanjut di warung kopi.

Di tengah gempuran-gempuran standar pendidikan dan rongrongan sistem yang ada justru membuat UIN kehilangan makna. Sudah sepatutnya kita menimbang kembali komentar orang-orang lama,“IAIN itu kampusnya santri, kampusnya kiai, kampusnya juru-juru dakwah, kampusnya guru-guru agama.”

Merebaknya penyimpangan pengajaran agama, institusi agama terlebih UIN berhak mengarahkan. Ketidakpatutan pejabat muslim, UIN tentu perlu berperan aktif sebagai ladang intelektual muslim yang memberikan arahan kepada masyarakat. Ketika ada aksi bela agama tertentu yang merebak, terlebih atas nama Islam, UIN menjadi benteng pemahamam beragama yang mengarahkan bagaimana baiknya muslim Indonesia bersikap.

Tapi rupanya, UIN Jakarta sedang berusaha mengejar peringkat dan hal-hal yang belum substansil ketimbang secara khusus menjadi pusat pengkaji Islam yang semakin banyak digagalpahami dan digerus nilainya saat ini.

Orang di sana-sini bicara bahwa Al Quran itu begini begitu, Islam itu harus ini harus itu, lalu di mana UIN Jakarta sebagai institusi pengawal masyarakat Indonesia, yang konon sumber belajarnya adalah Al Quran dan Hadis, dan khazanah Islam khas Indonesia?

Jika memang mencetak tenaga-tenaga profesional, mengapa tidak ditutup saja fakultas-fakultas keagamaan? Lalu masukkan saja kurikulum keislaman dalam mata kuliah program-program studi yang konon akan mencetak profesional islami bahkan profesional santri itu. Dan Islam pun menjadi semangatnya, bukan objek kajiannya.

Lalu biarkan saja kampus perguruan tinggi negeri lain mengkaji Islam dan pengkajian Islam di UIN bisa dialihkan ke fakultas-fakultas lainnya saja. Selesailah kajian keislaman yang hidup di UIN, lalu mari pindah ke masjid dan halaqah-halaqah tarbiyah supaya lebih “islami”. Katanya kajian Islam bisa bikin orang liberal. Mending ikut kakak-kakak “ikhwandan akhwat” saja yang lebih sejati keislamannya. Rujukan literaturnya? Kitab-kitab karya Syekh Felix Siauw. Auw.

Meskipun secara prestasi UIN bisa melampaui kampus-kampus kenamaan lainnya dalam bidang umum di suatu kegiatan, tetap saja secara kualitas, kemudian secara gengsi, UIN belum bisa mencapai ke tingkatan yang setara. Prestasi adalah hal yang bersifat individual atau dalam sekup sampel yang kecil. Belum lagi keberpihakan kapasitas institusional adalah hal yang perlu diteguhkan identitasnya. Lalu ruang-ruang bebas ngopi dan diskusi yang semakin sedikit.

UIN Jakarta bagaimanapun tetap bisa bersaing dalam kegiatan-kegiatan kenamaan yang sudah sering diikuti institut atau kampus-kampus negeri lain dalam pelbagai bidang keilmuan untuk menunjang kemampuan persaingan di kancah global. Tapi sepatutnya, UIN mulai menyadari keterbatasannya, dan mulai meneguhkan kembali identitasnya untuk menjadi tolok ukur pengkajian Islam di Indonesia.

Kajian-kajian ilmu-ilmu pendidikan agama, lalu manajemen masyarakat berbasis Islam lokal yang khas, berani melakukan interpretasi kembali teks-teks keagamaan mengikuti dinamika kebangsaaan, akan tetap menegaskan bahwa UIN, bagaimanapun keadaannya hari ini, adalah kampusnya santri, kampusnya kiai, kampusnya juru-juru dakwah, kampusnya guru-guru agama demi perkembangan masyarakat Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Lantas pertanyaannya, siapakah yang memulai mewujudkan harapan dan revitalisasi gagasan tersebut? Pak Rektor? Lah siapa dong…

Oleh: Muhammad Iqbal Syauqi 

Sumber: https://mahasiswabicara.id/kampusiana/2017/05/uin-jakarta-kehilangan-identitas/

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *