KAFE SUFI; RELIGIUSITAS MEDIA SIBER DALAM MENGGAPAI CAHAYA  KEMERDEKAAN

Saat ini, semakin marak fenomena komunitas baru di media sosial seiring dengan penerimaan media baru di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Mulanya, masyarakat yang memiliki akses menikmati jaringan internet sekaligus sebagai pengguna media sosial. Pengguna media sosial ini di kalangan remaja pun menjadi dominan, terutama di perkotaan. Penelitian tahun 2012 terhadap remaja mengungkapkan indikasi penggunaan media sosial meliputi; (1) Menjadi sarana eksistensi diri, hiburan dan membangun jejaring sosial, (2) Efektif membentuk komunitas, publikasi karya, (3) Memberikan kebebasan dan melepaskan seorang narasumber dari ikatan nilai atau norma budaya (4) menjalin dialogis dengan berargumen, berdebat, mendapat apresiasi dan/atau mempermalukan-dipermalukan pengguna lainnya, (Eni dan Hadi, 2012: 1-12).
Masyarakat muslim pun mengikuti tren tradisi interaksi sosial sesuai perkembangan media telekomunikasi, dengan tetap berupaya menjaga tradisi-tradisi lama yang relevan, ditengah maraknya media sosial yang semakin beranekaragam -Facebook, Whatsapp, Istagram, BBM, Line, Telegram, dan seterusnya- menuntut masyarakat muslim bersikap cerdas memahami dampak positif dan negatifnya. Dengan fasilitas media yang semakin canggih, menuntut pemenuhan ibadah ritual berimbang dengan ibadah sosial. Hal itu dilakukan sekaligus sebagai sebuah tantangan dalam menjaga eksistensi budaya religiusitas ditengah-tengah kehidupan modern yang cenderung mengikis konsistensi perilaku religius. Karenanya, kajian terhadap eksistensi religiusitas dengan eksistensi diri pemeluk agama ditengah kehidupan masa kini tetap penting untuk di revitalisasi secara massif. Demi terlaksananya tujuan dakwah baik secara persoal maupun komunal. 

Budaya religiusitas yang harus terus menerus dijaga meluputi lima dimensi; (1) kewajiban ritual seperti shalat, zakat, puasa dan lainnya (religious practice), (2) keimanan yang didasarkan pada dogma agama, seperti rukun iman yang enam (religious belief), (3) pemahaman dan pengetahuan tentang ajaran, baik berupa perintah-larangan dan seterusnya (religious knowladge), (4) perasaan tentang pengalaman agama yang dirasakan, seperti merasa selalu diawasi oleh Allah Swt. (religious feeling), dan (5) bersikap dan bertingkah laku yang sesuai dengan pedoman hidup umat Islam dalam seluruh aspek kehidupan baik ekonomi, sosial, politik dan lainnya (religious effect).(Glock dan Strak dalam Amru, 2016: 109). Karena itu, Amru meyakini, bahwa budaya religius mampu dioptimalisasikan kedalam kehidupan akademis sekaligus non akademis, baik sebagai orientasi moral, sebagai internalisasi nilai agama maupun sebagai etos kerja dan keterampilan sosial.

Pelaksanaan amar makruf nahi munkar melalui kajian tasawuf khususnya tentang penyucian diri dalam mengantisipasi dampak negatif media teknologi merupakan sebuah upaya yang mulia. Terutama bila dilakukan oleh dan untuk sesama generasi muda penerus yang diharapkan mampu menjadi generasi yang seimbang antara keagamaan, nasionalisme dan intelektual, demi menggapai kemerdekaan yang hakiki. Mahasiswa sebagai agen of change dan calon pemimpin masa depan harus menjalani kehidupan masa kini secara berimbang antara pengamalan spiritual, intelektual dan seterusnya. Maka, kegiatan-kegiatan sosialisasi tentang penyeimbangan diri dalam menyikapi penggunaan dan penguasaan media-media siber yang sulit terkendali ini pun harus dilakukan agar tidak ‘terjebak’ kedalam candu media sosial dengan kehilangan tradisi kritis dan produktifitasnya. 

Melalui kerjasama yang baik antar komunitas yang ada di lingkungan UIN Jakarta, MATAN Ciputat berupaya mengurai fenomena tersebut dengan mengadakan kegiatan serius tapi santai. Kegiatan yang ini pun diselenggarakan dalam suasana memperingati hari kemerdekaan RI ke-72 dan mengotimalkan segenap peluang dan tantangan generasi muda yang spiritualis dan nasionalis, dan intelektualitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *